REVIEW NOVEL "KAU, AKU DAN ANGPAU MERAH"


Judul               : Kau, Aku dan Angpau merah

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : 2012

Tebal Buku      : 507 Halaman

 

"Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan bumi mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya”.

Novel ini menceritakan Kisah Cinta sederhana yang diceritakan dengan penuh perjuangan dan kejutan. Jalan cerita tidak mudah ditebak, sehingga membuat saya ingin terus menerus membaca kelanjutannya. Tere Liye berhasil memainkan perasaan, melalui perasaan tokoh utama yang dengan cepat dibuat berubah.

Yang menarik dari novel ini yaitu, adanya misteri yang disajikan. Mulai dari, amplop merah, ketidak sukaannya Papa Mei, dan menjauhnya Mei dari kehidupan Borno. Misteri itu disajikan dengan menarik, sehingga membuat saya penasaran.

Novel "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah" adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda yang berasal dari tepian sungai Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat bernama Borno yang jatuh hati pada seorang gadis Indo China, Mei.

Dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama, dimana tokoh ‘Aku’ dalam novel ini bernama Borno. ‘Kau’ dalam novel ini bernama Mei. Borno kecil dikenal sebagai anak yang pandai dan kritis, pernah pada suatu hari Ia yang tinggal di tepian Sungai Kapuas sibuk memikirkan dan bertanya pada orang-orang : “Jika Kita buang air besar di hulu Kapuas, kira-kira berapa hari kotoran itu akan tiba di muara sungai, melintas di depan rumah papan Kami?” tetapi tak ada jawaban yang membuat Borno puas.

Kisahnya berawal ketika Dia berumur 12 tahun, Di lorong sebuah rumah sakit, Borno kecil harus menghadapi kenyataan bahwa Ayah yang amat sangat disayanginya harus berpulang ke pangkuan Sang pencipta, Bapak Borno yang bekerja sebagai nelayan tersengat ubur-ubur setelah sebelumnya terjatuh dari Kapal. Borno sesak, bukan karena kepergian Bapaknya yang tiba-tiba, namun karena keputusan Bapaknya yang menyetujui mendonorkan jantungnya sebelum tubuhnya benar-benar tak berdaya. Kepedihan Borno bukan semata-mata karena meninggalnya sang Ayah, melainkan pertanyaan bahwa sang ayah meninggal karena kecelakaan ataukah pisau bedah dalam ruang operasi.

Borno kemudian tumbuh menjadi pemuda yang bertanggung jawab. Setelah lulus SMA Borno berusaha mencari pekerjaan, melamar kerja sana sini, saking seringnya gonta ganti pekerjaan, Borno sering diejeki oleh tetangga dan warga yang tinggal ditepian sungai Kapuas, tempat lahirnya. Dimulai bekerja di pabrik pengolahan karet, dimana setiap pulang kerja selalu di olok-olok orang karena baunya seperti karet. Akhirnya berhenti, lalu bekerja di dermaga feri. Namun saat bekerja di dermaga feri, ia mendapat perlawanan dari Bang Togar, sodaranya sekaligus Ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta). Bang Togar dan para pengemudi sepit menganggap Borno berkhianat karena bekerja di dermaga feri, dimana kapal feri adalah kendaraan yang sangat dibenci oleh Bang Togar dan para pengemudi sepit karena dapat mengurangi penghasilan mereka. Akibat pertentangan itu, Bang Togar tidak memperbolehkan para pengemudi sepit mengantarkan Borno kemana pun, padahal untuk ke dermaga feri, Borno harus menaiki sepit. Akhirnya, karena ulah Bang Togar itulah, Borno berhenti bekerja di dermaga feri. Kemudian setelah melakukan pembicaraan dengan Pak Tua dan Ibunya, Borno yang awalnya tak mau, akhirnya memutuskan untuk bekerja menjadi pengemudi sepit.

Kisah cinta-pun berawal dari Sepit, Mei yang kala itu sedang melakukan praktek lapang di Pontianak menyeberangi sungai Kapuas dengan sepit, menjadi pengemudi sepit ternyata tidaklah mudah, Borno harus belajar terlebih dahulu sebelum Ia benar-benar siap mengemudikan sepit. Di hari pertama Ia mengemudikan sepit, saat orang-orang belum mempercayainya, seorang gadis berbaju kuning dengan payung merahnya duduk dengan tenang di bangku paling depan sepitnya, melihat itu, orang-orang baru kemudian berani menaiki sepit Borno.

Seperti biasanya, sebelum turun dari sepit, para pengemudi menyimpan uang di dasar sepit sebagai bayarannya, namun saat itu bukan hanya uang saja yang ia dapat, tetapi sebuah amplop merah yang ia temukan di bangku paling depan. Borno itu adalah benda gadis berpayung merah yang tidak sengaja tertinggal di sepitnya, karena ia ingat betul gadis itulah yang duduk di paling depan sepitnya.

Hari selanjutnya, Borno menunggu gadis itu kembali untuk mengembalikan amplop merah yang tertinggal,ia yakin amplop itu penting bagi si pemiliknya. Menjelang siang hari ia melihat gadis itu menaiki boat putih, tanpa berfikir panjang Borno mengejarnya, namun saat sepitnya hampir saja menyusul boat yang ditumpangi gadis yang dicarinya, sepit Borno kehabisan solar. Akhirnya, setelah Borno mengisi solar, dengan gontai Borno kembali ke dermaga sepit.

Tanpa di sangka, sesampainya di dermaga Borno melihat boat putih tadi tertambat anggun di tepi dermaga. Tahu begitu, Borno tak akan mengejarnya sampai kehabisan solar. Kemudian Borno menyadari sesuatu. Dermaga ini ramai, Borno melihat semua pengemudi sepit tertawa sambil memegang amplop berwarna merah yang ia sadari itu amplop yang sama dengan amplop yang ia yakini barang si gadis yang tertinggal di sepitnya. Saat otaknya berfikir, tiba-tiba gadis yang yang tadi dicarinya bertanya Apakah borno sudah menerima angpau darinya? Borno tidak menjawab, tapi karena Ia memegang amplop merah yang tertinggal, gadis itu berfikir, borno telah menerima angpau darinya. Disitulah ia sadar, bahwa itu bukan amplop penting yang tertinggal melainkan hanyalah sebuah angpau. Kemudian, tanpa berniat membukanya, ia memasukan kembali amplop merah itu ke dalam saku kemejanya.

Pertemuan pertama dengan gadis yang Borno sebut dengan si sendu menawan itu ternyata berpengaruh besar bagi Borno, entah mengapa setiap harinya Borno memikirkannya. Borno yang selalu meperhatikan gadis itu sampai hafal jadwal si gadis sampai di dermaga, maka agar gadis itu menaiki sepitnya, Borno menyimpulkan ia harus mengantri di antrian no 13. Benar saja,gadis itu selalu saja menaiki sepitnya.

Suatu hari, Borno yang belum mengetahui nama si gadis itu berniat untuk menanyakan namanya, supaya tidak terkesan sok kenal, Borno memulai pembicaraan dengan lelucon nama orang. Saat itu, Borno menertawakan nama orang yang berasal dari nama-nama bulan, si gadis hanya tersenyum simpul menanggapinya. Saat akan turun dari sepit, si gadis menyebutkan nama yang membuat Borno terkejut. Mei. Seketika Borno merasa malu dan bersalah.

Sejak mengetahui nama gadis itu, dan melupakan kejadian yang memalukannya, Borno mulai berani menyapa dan mendekati Mei, bahkan Ia sempat mengajari Mei menarik sepit. namun, sebelum Ia berhasil mengajari Mei sepit untuk kedua kalinya sesuai janjinya, Borno harus rela ditinggalkan Mei. Mei harus kembali ke tempat tinggalnya di Surabaya, karena tugasnya di Pontianak sudah selesai. Mengetahui itu, Borno sangat kecewa.

Semenjak kepergian Mei, Borno merasa hidupnya ada yang kurang, entah apa itu. Borno menjadi tak semangat. Tak ada lagi antrean nomer 13. Borno merindukan Mei.

6 bulan kepergian Mei, Pak Tua, kerabat Borno jatuh sakit dan harus melakukan terapi di Surabaya. Mendengar kabar itu, Borno tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia bersedia menemani Pak Tua terapi, tentunya dengan tujuan yang lain, yaitu bertemu dengan Mei.

Ternyata nasib berpihak baik pada Borno. Di hari kedua pengobatan Pak Tua, takdir mempertemukannya dengan Mei melalui jalan yang tak terduga. Mei lalu mengajak Borno dan Pak Tua jalan-jalan di Kota Surabaya. Malam harinya, setelah Pak Tua terlebih dulu kembali ke penginapan, Borno mengantar Mei pulang ke rumahnya. Disana, Borno bertemu dengan Ayah Mei. Malam itu, dihari pertemuan pertama dengan Papa Mei. Secara terang-terangan Papa Mei memperlihatkan ketidak sukaannya pada Borno, dan itu membuat Borno gelisah.

Kegelisahan Borno tidak berhenti sampai malam itu, bahkan setelah kembali ke Pontianak Borno masih gelisah memikirkan apa yang telah ia perbuat sampai-sampai Papa Mei tidak menyukainya. Kegelisahan itu berdampak pada kinerja kerja Borno. Borno menjadi kurang bersemangat untuk menarik sepit,juga bekerja dibengkel Andi, ditambah kerinduannya pada Mei. Borno rindu melihat Mei duduk disepitnya, Borno rindu antrean no 13. Borno rindu segala sesuatu tentang Mei.

Kerinduan itu akhirnya terbayar ketika suatu hari Mei kembali ke Pontianak, kembali duduk di sepitnya, dan kembali membuat Borno merasa sangat bahagia.

Di sisi lain, terlepas dari urusan asmara, Borno yang juga bekerja di bengkel Papa Andi,sahabatnya harus menelan pil pahit kehidupan. Ia yang berkongsi dengan Papa Andi ditipu oleh orang yang mengaku pemilik bengkel. Akibatnya Borno harus menjual sepitnya untuk membuka bengkel baru dan berhenti menarik sepit.

Semenjak Borno membuka bengkel, Mei sering mengunjungi Borno. Mereka semakin dekat. Borno bahagia akan hal itu. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja Mei meminta Borno menjauhinya, Ia sama sekali tak ingin bertemu Borno tanpa alasan. Borno berusaha mencari penjelasan dari Mei,tapi Borno malah bertemu dengan Papa Mei untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya juga Papa Mei meminta Borno untuk tidak mendekati Mei.

Ketika Mei mendadak menjauhinya, muncullah gadis lain dihidupnya : Sarah, sang dokter gigi yang ceria. Kehadiran Sarah mau tak mau mengusik kehidupannya. Namun, Sarah yang begitu cemerlang juga tak mampu menggantikan Mei dihati Borno.

Borno masih saja berusaha menemui Mei, walaupun Mei tak ingin sedikit pun menemui Borno. akhirnya Borno hanya bisa berkomunikasi dengan Mei menggunakan surat melalui perantara Bibi, meskipun Mei jarang sekali membalasnya. Suatu ketika, Saat Final lomba sepit, tiba-tiba saja Bibi memberikan surat dari Mei yang isinya membuat hati Borno kecewa : Mei kembali ke Surabaya.

Mei menghilang dari hidup Borno untuk kesekian kalinya. Tapi cerita Borno masih berlanjut, Borno memang kehilangan Mei, tapi demi Mei juga, Borno mencoba ikhlas, Borno berusaha menjadi bujang dengan hati yang paling lurus ditepian sungai Kapuas, seperti keinginan Mei di surat terakhirnya.

6 bulan berlalu, 1 tahun terlewati. Rahasia akhirnya terungkap. Sepulang dari liburannya ke Negeri sebrang, Borno mendapat kabar kalau Mei sakit keras di Surabaya. Sebelum menyusul Mei ke Surabaya, Bibi meminta Borno untuk membaca amplop merah yang ditemukan Borno aat pertemua pertamanya dengan Mei dulu. Disitulah rahasia terungkap. Amplop itu bukan sekedar amplop biasa, apalagi angpau. Amplop itulah yang ternyata menyimpan teka-teki mengapa Mei menjauhinya, juga alasan alasan Papa Mei meminta Borno untuk tidak mendekati Mei.Semua misteri itu terungkap jelas di amplop merah itu. Angpao merah itu berisi sebagai tanda permintaan maaf karena ibu Mei yang bertanggung jawab dalam pencangkokan jantung ayah Borno di masa lalu. Namun, hingga rasa cinta tumbuh subur diantara mereka, Angpao merah tersebut tidak pernah dibuka oleh Borno.


Menurut saya novel ini sangat cocok dibaca oleh kaum remaja maupun dewasa. ceritanya sangat menggunggah selera saya sebagai pembaca.Bagaimana tidak perjuanagan seorang pria yang telah menemukan wanita yang membuat hidup ini sangat bewarna, tetapi tiiba tiba wanita ini tiba tiba menghilang entah kenapa sebabnya, dan perjuangan seorang pria dimana dia mencari restu seorang bapak yang belum merestuinya. Kategori cinta pada novel ini yaitu Eros ( Cinta Antara Pria dan Wanita ) "Sejak mengetahui nama gadis itu, dan melupakan kejadian yang memalukannya, Borno mulai berani menyapa dan mendekati Mei, bahkan Ia sempat mengajari Mei menarik sepit. namun, sebelum Ia berhasil mengajari Mei sepit untuk kedua kalinya sesuai janjinya, Borno harus rela ditinggalkan Mei. Mei harus kembali ke tempat tinggalnya di Surabaya, karena tugasnya di Pontianak sudah selesai. Mengetahui itu, Borno sangat kecewa.Semenjak kepergian Mei, Borno merasa hidupnya ada yang kurang, entah apa itu. Borno menjadi tak semangat. Tak ada lagi antrean nomer 13. Borno merindukan Mei. 6 bulan kepergian Mei, Pak Tua, kerabat Borno jatuh sakit dan harus melakukan terapi di Surabaya. Mendengar kabar itu, Borno tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia bersedia menemani Pak Tua terapi, tentunya dengan tujuan yang lain, yaitu bertemu dengan Mei.Ternyata nasib berpihak baik pada Borno. Di hari kedua pengobatan Pak Tua, takdir mempertemukannya dengan Mei melalui jalan yang tak terduga. Mei lalu mengajak Borno dan Pak Tua jalan-jalan di Kota Surabaya. Malam harinya, setelah Pak Tua terlebih dulu kembali ke penginapan, Borno mengantar Mei pulang ke rumahnya. Disana, Borno bertemu dengan Ayah Mei. Malam itu, dihari pertemuan pertama dengan Papa Mei."

    Beberapa kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah:

  1. Masa muda adalah masa ketika kita bisa lari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah. (halaman 164)
  2. Cinta beda tipis dengan Sungai Kapuas. Cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu. Cinta sejadi adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tidak pernah berhenti, begitu pula cinta. Siklus Sungai Kapuas ini jauh lebih abadi dibanding cintal gombal manusia. Beribu tahun tetap ada di sini, meski airnya semakin keruh. Sedangkan cinta gombal kita? Jangan bilang kematian, bahkan jarak dan waktu sudah bisa memutusnya. (halaman 168)
  3. Cinta adalah kebiasaan. Kau tidak bisa membayangkan betapa indah proses transformasi perasaan dari sekadar sahabat menjadi seseorang yang special, macam melihat ulat berubah jadi kupu-kupu. (halaman 170)
  4. Jangan pernah menilai sesuatu sebelum kau selesai dengannya, mengenal dengan baik. (halaman 225)
  5. Sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walau kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang mengganggu. (halaman 282)
  6. Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (halaman 288)

Nama Reviewer  : Gulam Syahrul Muharom

NPM                    : 10120481

Kelas                   : 1KA27

Tugas                  : Ilmu Budaya Dasar M4